PLAGIARISME

Image result for plagiarism

Menghindari Plagiarisme atau Plagiat

Selain susunan penelitian harus sesuai kaidah ilmiah, tanggung jawab seorang peneliti tidak lepas kepada kode etik akademik dalam penyusunan penelitiannya. Banyaknya kasus pelanggaran hak cipta dalam praktek penelitian tentu berlawanan dengan etika penelitian. Penelitian yang menggunakan, mengutip atau mengambil sebagian perkataan, ide dan hasil karya orang lain harus memberikan penghargaan kepada pemilik asli perkataan, ide, dan karya tersebut. Masalah ini erat kaitannya dengan istilah plagiarisme. Plagiarisme menjadi salah satu isu penting dalam dunia akademik yang tidak hanya dialami di Indonesia namun juga di negara maju. Ditambah dengan semakin berkembangnya teknologi informasi berupa internet. Internet memungkinkan seseorang untuk mengambil ide orang lain dengan mudah sehingga banyak karya yang hanya bermodalkan copy-paste.

Berbagai Definisi Plagiarisme

Agar seorang peneliti tidak menjadi salah satu “pencuri” karya orang lain, setiap peneliti perlu memahami konsep plagiarisme. Definisi plagiarisme yaitu penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan dan pendapat sendiri (Wikipedia, 2008). Definisi yang lain menyebutkan plagiarisme adalah aksi menyalin atau meminjam hasil kerja atau ide tanpa memberikan pengakuan kepada penulis asli. Mahasiswa yang menulis esai, laporan atau thesis maupun disertasi harus mencantumkan sumber, seperti buku, artikel jurnal, pada daftar referensi yang mereka tambahkan pada hasil karya mereka (Swansea University, 2008).

Bentuk yang paling serius dalam plagiarisme yaitu dengan melakukan penulisan dengan mengutip secara langsung tanpa melakukan perubahan yang signifikan dari hasil karya orang lain. Praktek tersebut dinamakan dengan word-for-word plagiarism (Brian, 1984). Selain bertentangan dengan kode etik akademik, plagiarisme dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. Di dunia pendidikan, pelaku plagiarisme dapat mendapat hukuman berat seperti dikeluarkan dari sekolah/universitas. Pelaku plagiat disebut sebagai plagiator (Wikipedia, 2008). Beberapa alasan kenapa setiap peneliti perlu memperhatikan isu plagiarisme dengan baik, yaitu sebagai berikut (University of Chicago Davis, 2006):

  1. Dengan melakukan plagiarisme berarti melakukan kecurangan kepada diri sendiri.
    Dengan melakukan plagiarisme seseorang tidak belajar mengungkapkan pendapat dalam kata-kata sendiri, dan peneliti tidak akan mendapatkan feedback yang lebih spesifik dari instruktur penelitian dalam memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kemampuan individual peneliti.
  2. Merupakan perbuatan tidak jujur dan menyebabkan misleading bagi orang lain. Dengan melakukan plagiarisme, pembaca akan salah merepresentasikan sebuah karya kepada yang sebenarnya bukan hasil karya dari orang yang melakukan plagiarisme.
  3. Plagiarisme melanggar Kode Etik Akademik (Code of Conduct Academic).
  4. Plagiarisme mengurangi nilai dari karya orang lain. Dengan memakai dan mengumpulkan kerja orang lain sebagai pekerjaan sendiri berarti hal tersebut bersifat tidak adil kepada orang lain yang melakukan pekerjaan tersebut.
  5. Plagiarisme melanggar hak milik orang lain (property right). Tanpa memberikan penghargaan kepada pemilik ide, pelanggaran hak cipta akan berakibat denda bahkan bisa lebih buruk dari itu.
  6. Plagiarisme akan berdampak buruk pada reputasi lembaga tempat peneliti berada.

Bentuk-bentuk Plagiarisme

Kegiatan-kegiatan berikut bisa disebut sebagai plagiarisme (Wikipedia, 2008): a. Mengaku tulisan orang lain sebagai tulisan sendiri.            b. Mengakui gagasan orang lain sebagai pemikiran sendiri. c. Mengakui temuan orang lain sebagai kepunyaan sendiri. d. Mengakui karya kelompok sebagai kepunyaan atau hasil sendiri. e. Menyajikan tulisan yang sama dalam kesempatan yang berbeda tanpa menyebutkan asal-usulnya. f. Meringkas dan memparafrasekan (mengutip tak langsung) tanpa menyebutkan sumbernya. g. Meringkas dan memparafrasekan dengan menyebut sumbernya, tetapi rangkaian kalimat dan pilihan katanya masih terlalu sama dengan sumbernya. Hal-hal yang tergolong tidak plagiarisme: a. Menggunakan informasi yang berupa fakta umum. b. Menuliskan kembali (dengan mengubah kalimat atau prafase) opini orang  lain dengan memberikan sumber jelas. c. Mengutip secukupnya tulisan orang lain dengan memberikan tanda batas jelas bagian kutipan dan menuliskan sumbernya.

Mencegah Plagiarisme

Karena plagiarisme melanggar kode etik akademik, melanggar hak cipta, berakibat pada denda, bahkan lebih buruk dari itu, peneliti perlu untuk berusaha menghindari plagiarisme pada karya yang akan ditulisnya. Bisa jadi, karena tidak memahami konsep plagiarisme, peneliti secara tidak sengaja menuliskan pemikiran orang lain tanpa menyebutkan sumber. Meskipun tidak sengaja, kondisi tersebut bisa berujung pada masalah hukum. Ada berbagai upaya dalam mencegah seorang peneliti untuk tidak melakukan plagiarisme (University of Chicago Davis, 2006):

Menggunakan kata-kata dan ide Anda sendiri.

Latihan merupakan hal penting dalam belajar. Setiap waktu dalam memilih kata, akan mengasah otak dan nantinya akan meningkatkan kemampuan dalam menulis.

Memberikan penghargaan kepada materi yang disalin, diadaptasi dan diparafrasakan.

Apabila kita mengutip perkataan orang maka harus memberikan tanda kutip serta menyebutkan sumber dimana kita mengutip informasi tersebut. Apabila mengadaptasi grafik, atau memparafrasakan kalimat maka sumber juga harus tetap disebutkan. Paraphrase adalah mengungkapkan kembali ide, informasi, dan arti dari orang lain dengan bahasa sendiri.

Hindarilah penggunaan hasil karya orang lain dengan memberikan “kosmetik” sebagai hiasan.

Sebagai contoh dengan menggunakan kata “kurang” atau “lebih sedikit”, membalik susunan kalimat, mengganti terminologi, mengganti bentuk tampilan lembar kerja. Apabila memang karya tersebut sama dengan sumber yang dipakai maka berikanlah penghargaan kepada hasil karya orang lain.

Tidak ada sesuatu yang gratis.

Selalu memberikan kutipan pada perkataan, informasi, dan ide yang digunakan dalam melakukan penelitian. Hal itu dilakukan tanpa memandang dimana mendapatkannya, meskipun itu berasal dari internet maupun ensiklopedi, kita tetap harus menyebutkan sumber.

Cermat pada common knowledge atau fakta yang umum diketahui.

Ada kemungkinan dalam penulisan artikel peneliti tidak melakukan penyebutan sumber pada hal-hal yang sudah diketahui secara umum atau common knowledge. Kita tetap harus menyebutkan sumber dimana informasi itu didapat.

Saat ragu maka tetaplah menyebutkan sumber.

Hal tersebut lebih aman, memberikan penghargaan kepada penulis, daripada tidak memberikannya saat kita memang seharusnya menyebutkan sumber. Perlu melakukan usaha pencegahan yang kuat pada perkembangan praktek plagiarisme, apalagi pada sebuah institusi yang bereputasi akademik yang harusnya terbebas dari sebuah ‘dosa’ akademik. Dengan usaha dari pemerintah serta institusi akademis secara umum, maka hal yang ‘tabu’ seperti plagiarisme tidak akan terjadi lagi (Brian, 1984). Dari berbagai kasus plagiarism yang akhirnya berujung pada ranah hukum, penelitian yang dilakukan tidak dapat begitu saja terlepas dari aspek hukum yang ada.

Konsep-konsep Plagiarisme

Berikut beberapa konsep berkaitan dengan plagiarisme yang perlu diketahui (ISS, 2006): a. Common knowledge. Fakta yang dapat ditemukan pada berbagai tempat dan kemungkinan besar akan diketahui oleh banyak orang. b. Kutipan (Quotation). Menggunakan perkataan orang lain. Pada saat mengutip maka tempatkan bagian yang dikutip dan mencantumkan sumber sesuai dengan berbagai gaya atau metode cara pengutipan yang diterima. c. Parafrase. Menggunakan ide seseorang, akan tetapi menuliskannya dengan menggunakan bahasa sendiri. Meskipun menggunakan kata-kata sendiri penulis harus tetap menyebutkan sumber dari mana informasi itu didapat. Plagiat berarti menjiplak sebagian atau seluruh hasil karya orang lain tanpa seijinnya.

Dalam kasus tugas akhir baik skripsi maupun thesis pada Teknologi Informasi atau ilmu-ilmu komputer lainnya, pengertian, aturan, dan hukuman terhadap plagiat sangat beragam. Ini terjadi karena banyaknya source code bebas yang ada di internet dan banyaknya biro jasa atau orang yang membantu membuatkan program skripsi atau tugas akhir. Apalagi biasanya belum ada aturan eksplisit di jurusan yang mengatur tentang definisi dan sanksi plagiat. Kalaupun ada, penerapannya juga sangat tergantung dari dosen pembimbing dan penguji skripsi atau tugas akhir. Ada beberapa kemungkinan tentang pengaturan plagiat dalam skripsi atau tugas akhir (Maria Polina, A. & Jong Jek Siang, 2005):

  1. Aturan dan sanksi plagiat diberlakukan sangat ketat. Ini berarti jika pada tugas akhir seorang mahasiswa diketahui ada sebagian atau semua program bukan buatannya sendiri, mahasiswa tersebut langsung dinyatakan tidak lulus, atau bahkan harus mengganti judul tugas akhir. Aturan ini agak jarang ditetapkan karena sulit melacak dan memberlakukannya pada semua dosen.
  2. Aturan plagiat diberlakukan sangat lunak. Ini adalah kebalikan dari aturan yang pertama. Dalam aturan ini jurusan atau dosen seolah menutup mata tentang apa yang dilakukan mahasiswa selama pembuatan tugas akhirnya. Mereka berasumsi bahwa mahasiswa yang sudah mengambil tugas akhir adalah orang yang suah cukup dewasa untuk menentukan baik atau tidaknya sesuatu yang dilakukannya. Biarlah masyarakat yang menilai perbuatanya tersebut. Dengan asumsi itu maka pasti tidak ada mahasiswa yang sebagian atau bahkan seluruh tugas akhirnya merupakan hasil karya orang lain karena plagiat merupakan sesuatu yang buruk. Asumsi semacam ini secara praktis sulit dilaksanakan karena pada hakekatnya setiap orang ingin memperoleh segala sesuatu dengan mudah. Meskipun sudah ada aturan dan ancaman mencontek waktu ujian, tetapi masih banyak mahasiswa yang mencoba melakukannya. Apalagi kalau tidak ada aturan dan hukuman untuk mahasiswa yang mencontek. Sama halnya di bidang hukum, semua orang tahu kalau mencuri adalah perbuatan dosa. Bayangkan apa yang terjadi jika diasumsikan bahwa semua orang sudah cukup bijaksana sehingga tidak mencuri serta tidak ada hukuman untuk pencuri. Aturan yang terlalu longgar semacam inipun juga jarang diberlakukan karena lama-kelamaan jurusan atau perguruan tingginya akan memperoleh cap murahan atau jual ijazah.
  3. Hukuman plagiat diterapkan kasus demi kasus, tergantung berat atau ringannya tingkat plagiat yang dilakukan. Cara seperti ini yang paling banyak diterapkan oleh perguruan tinggi. Bagaimana hukuman untuk tiap kasus berbeda-beda di tiap perguruan tinggi. Kasus yang paling berat terjadi jika terbukti bahwa tugas akhir yang mahasiswa buat merupakan tugas akhir mahasiswa lain (biasanya dari mahasiswa perguruan tinggi lain). Tidak hanya programnya yang ia ambil, tetapi juga laporannya. Barangkali yang dilakukan tinggal mengganti nama, NIM, dan nama perguruan tingginya saja. Kalau ini yang terjadi, kemungkinan besar mahasiswa tersebut tidak lulus dan harus mengganti judul tugas akhirnya.

Kasus yang sering terjadi adalah sebagian atau seluruh program tugas akhirnya dibuatkan oleh teman, biro jasa, atau diperoleh dari internet, meskipun laporannya dibuat sendiri. Kalau yang dibuatkan hanyalah bagian yang sulit dan mahasiswa tersebut menguasai seluruh langkah penyelesaiannya manualnya, hukumannya tidak berat (bahkan mungkin tidak ketahuan ), mungkin hanya berupa penurunan nilai. Tetapi kalau terbukti semua program dibuatkan (apalagi ia tidak bisa menjalankan teori atau cara kerja manualnya atau alur programnya), hukumnya akan berat. Kemungkinan besar ia tidak lulus. Kalaupun ia sudah angkatan tua (misalnya sudah menginjak tahun ke 8 dan terancam DO), mungkin akan diberi belas kasihan dengan diluluskan dengan nilai manimal. Apapun hukumannya plagiat selalu mengandung resiko yang tidak mengenakkan. Karena itu usahakan untuk membuat sendiri semua program dalam tugas akhir. Kalaupun Anda tidak tahu bagian tertentu (misalkan program selalu error jika di run ), tanyakan pada teman.

Kendala Hukum

Penelitian yang dilakukan tidak dapat begitu saja terlepas dari aspek hukum yang ada. Dalam hal ini terdapat prosedur tertentu untuk dapat memperoleh izin penelitian. Apakah penelitian yang akan dilakukan tersebut tidak bertentangan dengan aturan hukum yang berlaku perlu diketahui dengan jelas sesuai dengan peraturan perundangan yang ada. Selain itu, setidaknya ada dua kendala dalam penelitian yang sering dihadapi (Neumann, 2000). Pertama, siapa yang mengontrol akses terhadap data atau masalah yang diteliti? Ini adalah masalah siapa” penjaga gawang” atas hasil-hasil penelitian maupun data yang diperoses. Berapa kasus menunjukan para penjaga gawang dapat membatasi apa yang diteliti dan dapat juga melindungi organisasinya dari kritikan. Biasanya untuk kasus semacam ini sering kali ada pembatasan akses terhadap subjek maupun bidang yang diteliti.

Kedua, bagaimana kontrol terhadap data yang dikumpulkan dari sumber resmi atau pemerintah. Bagaimana lembaga pemerintah tersebut mengumpulkan anggaran, bebas dari pengaruh faktor politik. Untuk data-data tertentu yang tidak dipublikasikan (unpublished data) biasanya produsen data meminta surat perjanjian tertulis kepada pengguna data. Isi perjanjian bisa berupa: (1) pertanyaan bahwa data dan hasil analisis hanya digunakan untuk kebutuhan riset, (2) tdak memperjualbelikan data tersebut,  (3) data maupun hasil penelitian baru boleh dideseminasi atau dipublikasikan setelah periode tertentu.

Daftar Pustaka

Berndtsson, M. Jorgen, H. Bjorn, O. 2008. Thesis Projects: A Guide for Student in Computer Science and Information Systems. London: Springer.

Cooper, D. R. & Schindler, P. S. 2001.  Business Research Methods. 7thed. Boston: McGraw Hill Book Co.

Davis, D. & Cosenza, R. M. 1993. Business Research for Decision Making. Belmont: PWS-KENT Publishing Company.

Gay, L. R., & Diehl, P. L. 1996. Research Methods for Business and Management. Singapore: Simon & Schuster Ltd.

Howard, K. and Sharp, J.A. 2003. The Management of a Student Research Project. Aldershot: Gower.

John W. Creswell. 2010. Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Edisi Ketiga, Terj. Achmad Fawaid. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kuncoro, M. 2009. Metode Riset untuk Bisnis dan Ekonomi: Bagaimana Meneliti dan Menulis Tesis. Edisi 3. Jakarta: Erlangga.

Maria Polina, A. & Jong Jek Siang. 2005. Kiat Jitu Menyusun Skripsi Jurusan Informatika atau Komputer. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Marimin, et al, 2013. Teknik dan Analisis Pengambilan Keputusan Fuzzy dalam Manajemen Rantai Pasok. Bogor: IPB Press.

Norman K.Denzim & Yvonna S. Lincoln. 2011. The Sage Handbokk of Qualitative Research 2. Edisi Ketiga, Terj. Dariyatno. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Neumann, W. L. 2000. Social Research Method: Qualitative and Quantitative Approaches. 4thed. Boston: Allyn and Bacon.

Post, J.E. Frederick, W.C., Lawrence, A.T. & Weber, J. 1996. Business and Society: Corporate Strategy, Public Policy, Ethics. 8thed. New York: McGraw-Hill, Inc.

 

Berbicara kepada diri sendiri seperti seorang pemenang. Kau sekarang berada di tempat ke mana pikiranmu membawamu, kau besok akan berada ke mana pikiranmu mengantarmu. Anda perlu terus-menerus bertanya kepada diri sendiri. Apakah pikiran ini membantu atau melukaiku? Apakah pikiran itu membawaku semakin dekat dengan tujuanku atau membawaku semakin jauh? Apakah pikiran itu memotivasiku untuk bertindak atau menghalangiku dengan rasa takut dan keraguan? Anda harus belajar mempertanyakan dan melawan pikiran-pikiran yang tidak membantu Anda menciptakan kesuksesan dan kebahagiaan yang lebih besar.

Jack Canfield

Profile

1 thought on “PLAGIARISME

Leave a Reply